
hai..
kali ini saya mau ngebahas soal WARTEL. menurut EYD, Ejaan Yang Disemvurnakan, wartel adalah makanan kelinci (itu WORTEL!). #abaikan ini pembaca.

wartel adalah singkatan. yang kepanjangannya adalah warteeeeeeeeeeeellllllllll. becanda. wartel itu WARUNG TELEKOMUNIKASI. which is, warung/tempat nongkrong buat berkomunikasi. jadi, warteg, warnet, ato bahkan warkop, juga merupakan subbab dari wartel. toh melalui mereka kita juga berkomunikasi. tentunya ga via telpon yah!
kenapa tiba² saya tertarik ngebahas ini? tadi, pas mo buka puasa, saya beli rokok di tetangga. nah, pas di sebelah toko meracang ini ada wartel. yang buat saya, bersejarah. coba tengok di sekitar kalian, pasti ada 1 ato 2 wartel di deket rumah kan? ya, wartel pas saya masih SMP/SMA dulu sedang berada di puncak kejayaan. keluar rumah berapa ratus meter, pasti nemu wartel. saya sering menghabiskan uang jajan dimasa itu buat telpon pacar/gebetan. karena, telpon rumah dikunci. sebabnya, saya membengkakkan tagihan! :))
ntah itu 5-10rb. tapi saya merasa duit saya lebih banyak dihabiskan untuk ini daripada rokok.
menurut saya pribadi, usaha wartel ini ga terlalu mahal kayanya. kita cukup nyisain rumah beberapa meter buat biliknya. minimal type 45 kali yaaahhh. bikin bilik semau anda ada berapa, trus ke TELKOM buat daftar. iya! ke TELKOM! dulu saya pnah dempetan ama ibu² yang marah² ke PLN karena mo telpon sodaranya ga nyambung². bikin wartel ga serumit kasus nazaruddin ato century, karena kita ga perlu berhadapan dengan interpol ato mavia (mafia!) pajak.
tapi tengoklah sekarang, apakah wartel² di sekitar kalian seramai dulu? di tempat saya, hmm..... kira² ada 5-6 lah dalam radius 100m. dan, MEREKA SEMUA BANGKRUT! wtv?! iya, bangkrut. kasian tentunya. mereka bikin usaha ini juga pake duit, dan berharap bisa jadi pasif income waktu pensiun. tapi mau gimana? teknologi uda ngancurin mimpi pengusaha wartel. cellphone, musuh para pengusaha wartel. mungkin pada saat itu, cellphone masih barang mahal. lalu pas saya masih kelas 1 SMA kalo ga salah, seorang teman menunjukkan cellphone yang saya blon pnah liat. aneh, nomernya ga diawali dengan 081. "apa ini?" tanya saya. "ini flexi." dia menjawab. oh, jadi ada teknologi baru bernama flexi. awalnya saya ga tau kalo flexi itu milik telkom sendiri. akhirnya saya mulai berpikir, kenapa toket julia perrez bisa SEGEDE itu?
no! vokus! vokus!
jadi, apakah telkom me-regenerasi teknologinya untuk mencari keuntungan pribadi? dengan adanya flexi, tentu saja para pengusaha wartel bangkrut. seperti kita tau, harga handphone flexi bisa dijangkau dengan ratusan ribu saja. lalu, gimana ama pengusaha wartel? gigit jari. mereka yang awalnya mendapat masukan dari usaha wartelnya, sekarang mulai kegusur dengan kehadiran vleksi (fffffffffffleksi, monyong!). akhirnya, saya muter ngeliatin wartel² yang dulu pernah saya singgahi untuk bercinta. nasibnya? 100% sama kaya wartel deket rumah. tutup a.k.a bangkrut. bahkan saya sempat menyapa mbak yang punya wartel, ntah dia inget ga kalo saya langganannya (ga enak ya bacanya? langganan). tragis memang, mereka dikhianati bos mereka sendiri demi keuntungan pribadi. dan sepertinya ga cuma bisnis wartel aja. selama manusia masih dikuasai ama yang namanya serakah dan rakus, yang kaya begini ga bakal ilang. lingkaran setannya terus jalan.
ah, nostalgia banget ngeliatin mantan² wartel itu. saya ga perlu jauh² dan mahal² kalo pengen inget jaman SMP/SMA pacarannya gimana.
"terima kasih, wartel. kamu sempat mengisi hidup saya lewat bilik 1x2.
mungkin gagang telponmu bau nafas berbagai macam makhluk hina dan jelita.
tapi tidak bisa dipungkiri, melaluimu kami menyampaikan berita.
dan cinta.."